Selasa, 01 Februari 2011

Jumat, 28 Januari 2011

Lutung Jawa (Trachypithecus auratus)

Ini anak lutung jawa yang masih berwarna kuning emas.  Jika sudah dewasa warnanya berubah menjadi hitam.  Perhatikan warna rambut di seputar pinggir muka gambar dibawah ini yang sudah mulai tampak hitam.

Anak Lutung Jawa
                                      

Trachypithecus auratus, anak lutung

Anak Lutung Umur 2 Bulanan

Trachypithecu auratus in action

Dipisah Dari Induk

Kamis, 27 Januari 2011

PERLU ETIKET MAKAN DI BT COMM.

Sabtu tanggal 15 januari 2011 Balung Tuwa community mengadakan acara rutin sabtu minggu "nggowes" bersama dengan sepeda pancal MTB. Berangkat dari halaman gedung Graha Petrokimia pukul 06.15 dengan rute KIG, gresik Kota Baru, Manyar, Bunder, Perumahan ABR, menyeberangi telaga semen Gresik, kembangan Asri, Kaki bukit Hollywood, kemudian finish di Warung Gembul Kebomas. Jarak yang ditempuh sekitar 20 km. Peserta kali ini lebih banyak dari biasanya, 124 orang. Mungkin karena ada undangan dari doter Singgih, mungkin juga sebagai latihan untuk trial minggu depan ke Selecta sehingga yang ikut nggowes sangat banyak. Kurang lebih pukul 09.00 para penggowes memasuki area warung Gembul. Saya biasanya termasuk kelompok penggowes yang datang lebih awal.


Seperti biasa kalau lagi bersepeda gunung, penampakan para penngowes cukup menyeramkan, muka merah, kaos basah keringat bercucuran. Soal bau badan? Jangan ditanya. Walaupun ada satu dua orang yang hingga finish masih harum karena sebelum berangkat sudah diguyur farfum tetapi sebagian besar menebar aroma asli. Ada yang bau ketek, ada yang menebarkan aroma tempe, ada yang menyemburkan flavor bawang, ada pula yang baunya ampuuun deh ! alhamdulillah.

Begitu tiba di halaman warung gembul sepeda disandarkan di pagar terus menyerbu ke arah meja makan. Saya baru pertama ke tempat makan ini. Model lesehan cukup bagus, cukup luas, bisa menampung 150 an orang. Setiap ruang lesehan berukuran sekitar 2 x 3 meter cukup nyaman jika dipakai 10 orang. Tinggi sekat hanya 40 cm sehingga mudah melihat ruang lain. Sebelum duduk lesehan disediakan deretan kran untuk cuci tangan mirip tempat wudhu.

Di atas meja sudah tersaji sate kambing, bandeng bakar, ayam goreng, cap cai, dll., dan yang paling menarik adalah minuman beras kencur dingin. Sasaran pertama adalah beras kencur yang dikemas dalam botol air mineral 1 literan. Udara lagi panas, tenggorokan sedang haus, di depan sudah tersedia beras kencur dingin warna kuning emas jernih, mana tahan...., maka langsung saja sikat. "Gok gok gok......", tuangkan lagi di gelas lantas seruput lagi "gok gok gok...".

Mumpung penggowes lain belum pada datang saya incipi hampir semua hidangan, ayam goreng, sate kambing, gurami asam manis. Lho ada juga sambalnya, uuiiih.....

Tidak sampai 10 menit penggowes lain sudah memenuhi meja makan saya, mereka dengan kondisi hampir sama, muka merah kepanasan, kaos basah keringat bercucuran sekaligus menebar aroma badan, menyerbu makanan dan minuman yang sudah disiapkan. Namun yang kebangetan adalah penggowes yang baru datang di sebelah saya, dia duduk lesehan seenaknya. Sepatu sih dilepas tapi kaos kakinya yang basah keringat masih tetap dipakai. Wah yang terakhir ini baunya ampuun... mungkin kaos kaki itu sudah dipakai 100 kali belum pernah dicuci, baunya mengalahkan 1000 ekor kelelawar. Bau apeg luar biasa, kayaknya hanya bisa ditandingi oleh pasar kambing menjelang idul adha.

Walaupun masakan yang disajikan mengundang selera tapi kalau ada orang di sebelah duduk lesehan pakai kaos kaki basah, walaah..... Saya langsung berdiri, keluar meninggalkan meja makan (karena sudah kenyang).

Acara semacam ini sering diadakan oleh BT comm karena anggotanya banyak dan sering gantian mengundang makan syukuran. Supaya waktu acara makan minum sehabis olah raga terasa lebih nyaman sebaiknya penggowes diberi aturan misalnya, sebelum makan harus cuci tangan, cuci muka, lepas sepatu, dan lepas kaos kaki. Tempat acara akan lebih cocok kalau bukan di tempat lesehan yang duduknya harus berdekatan tapi ditempat terbuka yang mana orang bisa makan sambil duduk santai tersebar dimana saja, di atas batu atau di emperan atau mana saja yang tidak terlalu berdempetan.

Para pegolf kebanyakan dari kalangan menengah atas, mereka juga seperti itu, "sistem kerbau" makan dulu baru mandi. Begitu bubaran golf mereka langsung makan walaupun masih bercucuran keringat. Kecuali kalau sedang turnamen, mereka mandi dulu setelah bersih, rapi, dan harum lantas makan. Tetapi karena ruangan club house golf cukup lapang, meja dan kursi enak dan leluasa, maka meraka bisa makan dengan nyaman walaupun masih belum mandi dan tidak ada serangan bau kaos kaki. Hehe...

Jumat, 21 Januari 2011

Selasa, 26 Oktober 2010

ANAKKU SEDANG BERJUANG

FNA memang sedikit kegemukan. Dengan tinggi 178 cm dan bobot 98 kg tampak kurang langsing. Celana wool hitam Executif ukuran 36 inci yang dikenakan kelihatan "ngapret", sebagian lemak perutnya menggelembung di atas ikat pinggang, pahanya pun seperti tersiksa oleh ketatnya celana. Baju putih lengan panjang merk Polo dari bahan "koyor" jauh dari necis. Untung pagi-pagi saya sudah minta tolong Yanto untuk menyetrikanya sehingga tidak kelihatan terlalu kumal. Kaos dalamnya warna putih mangkak dibeli tahun 2004. Waktu dipakai bagian leher kaos tsb tampak melintir karena sudah terlalu tua. Huruf Jepang warna merah di bagian dada kelihatan jelas karena baju luarnya warna putih agak transparan. Tidak tega aku melihatnya, kuminta dia segera ganti kaos dalam dengan kaos singletku karena waktu berangkat dari Denpasar dia tidak bawa kaos cadangan.

Rambutnya gondrong, bergelombang tidak terawat. Kucoba untuk membantu menyisirnya. "Ah... helaian-helaian rambut ini sungguh bagus" komentarku dalam hati, subur hitam mengkilap. Walaupun sudah beberapa kali kusisir tetapi tetap saja ujung rambut bagian belakang tampak "njenthit" seperti ekor kucing. Andaikan masih cukup waktu pasti aku akan memotongnya supaya kelihatan lebih rapi. Apapun adanya, entah kegemukan, entah bajunya kumal entah rambutnya tidak terawat FNA adalah anakku yang siang ini akan diwawancarai oleh assessor dari Jobs Experd konsultan rekruitmen, seleksi tahap ke 3 untuk dapat diterima di program ODP bank BNI. Anakku sedang berjuang untuk mencari kehidupan.

Nasi bogana bungkus yang dibelikan Yanto hanya dimakan beberapa sendok. Entah tidak enak atau lagi tidak selera, atau stress dia hanya makan sedikit. Aku khawatir nanti dia kelaparan. Agar tidak stress aku tawarkan membawa sebotol kecil air mineral supaya diminum sebelum wawancara, tapi dijawab "tidak usah pak" . Pukul 11.45 kami keluar meluncur ke kawasan Kebayoran, jalan Mataram no 59 Jakarta.

Dibawah hujan deras dia keluar dari mobil kemudian segera berlari menerobos sela-sela air hujan menuju ke teras rumah besar itu. Dari balik kaca kulihat baju dan rambutnya basah, aku khawatir dia nanti masuk angin. Sebenarnya aku tidak tega meninggalkan dia, rasanya aku ingin mendampingi  ketika diwawancarai. Tapi mana mungkin. Aku pasti tidak diijinkan panitia. Hanya doaku menyertaimu, anakku, agar Allah mengampuni semua dosa dan kesalahanmu, memberimu petunjuk, kemudahan, dan kekuatan sehingga kamu memperoleh kebahagian dunia dan akhirat.

Hujan masih tetap deras ketika aku melanjutkan perjalanan menuju ke Bandara Sukarno Hatta. Meskipun sudah di lounge terminal F, tapi aku merasa ada yang masih tertinggal, yaitu hatiku. Seakan-akan aku melihat anakku sedang diwawancarai, tergagap-gagap,  peluhnya bercucuran.  "Bapak....!", lamat-lamat aku mendengar rintihannya, kedua tangannya terjulur menggapai ke arahku, minta tolong. Rasanya seperti "dibethot". Ibarat kerikil pada ketepel yang karetnya sedang ditarik maksimal kemudian dilepaskan. kerikil lepas melesat jauh meninggalkan diriku. "Sini nak, sini...., ayo tak gendong!".

(Lounge Garuda terminal F)